Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL KESEHATAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL KESEHATAN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Desember 2009

PENYEBAB KELAINAN BAWAAN PADA NEONATUS

Pemakaian alkohol oleh ibu hamil
Pemakaian alkohol oleh ibu hamil bisa menyebabkan sindroma alkohol pada janin dan obat-obat tertentu yang diminum oleh ibu hamil juga bisa menyebakan kelainan bawaan.

· Penyakit Rh, terjadi jika ibu dan bayi memiliki faktor Rh yang berbeda.

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan meningkatnya resiko kelainan bawaan:

  1. Teratogenik
    Teratogen adalah setiap faktor atau bahan yang bisa menyebabkan atau meningkatkan resiko suatu kelainan bawaan.
    Radiasi, obat tertentu dan racun merupakan teratogen.
    Secara umum, seorang wanita hamil sebaiknya:
    - mengkonsultasikan dengan dokternya setiap obat yang dia minum
    - berhenti merokok
    - tidak mengkonsumsi alkohol
    - tidak menjalani pemeriksaan rontgen kecuali jika sangat mendesak.

    Infeksi pada ibu hamil juga bisa merupakan teratogen. Beberapa infeksi selama kehamilan yang dapat menyebabkan sejumlah kelainan bawaan:
    - Sindroma rubella kongenital ditandai dengan gangguan penglihatan atau pendengaran, kelainan jantung, keterbelakangan mental dan cerebral palsy
    - Infeksi toksoplasmosis pada ibu hamil bisa menyebabkan infeksi mata yang bisa berakibat fatal, gangguan pendengaran, ketidakmampuan belajar, pembesaran hati atau limpa, keterbelakangan mental dan cerebral palsy
    - Infeksi virus herpes genitalis pada ibu hamil, jika ditularkan kepada bayinya sebelum atau selama proses persalinan berlangsung, bisa menyebabkan kerusakan otak, cerebral palsy, gangguan penglihatan atau pendengaran serta kematian bayi
    - Penyakit ke-5 bisa menyebabkan sejenis anemia yang berbahaya, gagal jantung dan kematian janin
    - Sindroma varicella kongenital disebabkan oleh cacar air dan bisa menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada otot dan tulang, kelainan bentuk dan kelumpuhan pada anggota gerak, kepala yang berukuran lebih kecil dari normal, kebutaan, kejang dan keterbelakangan mental.

  2. Gizi
    Menjaga kesehatan janin tidak hanya dilakukan dengan menghindari teratogen, tetapi juga dengan mengkonsumsi gizi yang baik.
    Salah satu zat yang penting untuk pertumbuhan janin adalah asam folat. Kekurangan asam folat bisa meningkatkan resiko terjadinya spina bifidatabung saraf lainnya. Karena spina bifida bisa terjadi sebelum seorang wanita menyadari bahwa dia hamil, maka setiap wanita usia subur sebaiknya mengkonsumsi asam folat minimal sebanyak 400 mikrogram/hari.

    atau kelainan

  3. Faktor fisik pada rahim
    Di dalam rahim, bayi terendam oleh cairan ketuban yang juga merupakan pelindung terhadap cedera.
    Jumlah cairan ketuban yang abnormal bisa menyebabkan atau menunjukkan adanya kelainan bawaan.
    Cairan ketuban yang terlalu sedikit bisa mempengaruhi pertumbuhan paru-paru dan anggota gerak tubuh atau bisa menunjukkan adanya kelainan ginjal yang memperlambat proses pembentukan air kemih.
    Penimbunan cairan ketuban terjadi jika janin mengalami gangguan menelan, yang bisa disebabkan oleh kelainan otak yang berat (misalnya anensefalus atau atresia esofagus).
  4. Faktor genetik dan kromosom
    Genetik memegang peran penting dalam beberapa kelainan bawaan. Beberapa kelainan bawaan merupakan penyakit keturunan yang diwariskan melalui gen yang abnormal dari salah satu atau kedua orang tua.
    Gen adalah pembawa sifat individu yang terdapat di dalam kromosom setiap sel di dalam tubuh manusia. Jika 1 gen hilang atau cacat, bisa terjadi kelainan bawaan.

Pola pewarisan kelainan genetik:

  1. Autosom dominan
    Jika suatu kelainan atau penyakit timbul meskipun hanya terdapat 1 gen yang cacat dari salah satu orang tuanya, maka keadaannya disebut autosom dominan.
    Contohnya adalah akondroplasia dan sindroma Marfan.
  2. Autosom resesif
    Jika untuk terjadinya suatu kelainan bawaan diperlukan 2 gen yang masing-masing berasal dari kedua orang tua, maka keadaannya disebut autosom resesif.
    Contohnya adalah penyakit Tay-Sachs atau kistik fibrosis.
  3. X-linked
    Jika seorang anak laki-laki mendapatkan kelainan dari gen yang berasal dari ibunya, maka keadaannya disebut X-linked, karena gen tersebut dibawa oleh kromosom X.
    Laki-laki hanya memiliki 1 kromosom X yang diterima dari ibunya (perempuan memiliki 2 kromosom X, 1 berasal dari ibu dan 1 berasal dari ayah), karena itu gen cacat yang dibawa oleh kromosom X akan menimbulkan kelainan karena laki-laki tidak memiliki salinan yang normal dari gen tersebut.
    Contohnya adalah hemofilia dan buta warna.

Kelainan pada jumlah ataupun susunan kromosom juga bisa menyebabkan kelainan bawaan.
Suatu kesalahan yang terjadi selama pembentukan sel telur atau sperma bisa menyebabkan bayi terlahir dengan kromosom yang terlalu banyak atau terlalu sedikit, atau bayi terlahir dengan kromosom yang telah mengalami kerusakan.
Contoh dari kelainan bawaan akibat kelainan pada kromosom adalah sindroma Down.
Semakin tua usia seorang wanita ketika hamil (terutama diatas 35 tahun) maka semakin besar kemungkinan terjadinya kelainan kromosom pada janin yang dikandungnya.
Kelainan bawaan yang lainnya disebabkan oleh mutasi
genetik (perubahan pada gen yang bersifat spontan dan tidak dapat dijelaskan). Meskipun bisa dilakukan berbagai tindakan untuk mencegah terjadinya kelainan bawaan, ada satu hal yang perlu diingat yaitu bahwa suatu kelainan bawaan bisa saja terjadi meskipun tidak ditemukan riwayat kelainan bawaan baik dalam keluarga ayah ataupun ibu, atau meskipun orang tua sebelumnya telah melahirkan anak-anak yang sehat.


diunduh dari www.newbornclinic.wordpress.com

Jumat, 11 Desember 2009

PMS ( PENYAKIT MENULAR SEKSUAL)

PENYAKIT HUBUNGAN SEKSUAL


Penyakit Hubungan Seksual (PHS) adalah kelompok penyakit infeksi yang ditularkan melalui kontak seksual. Termasuk dalam PHS adalah Sifilis, Gonore (GO), Chlamydia, Herpes Genitalis, Kondiloma Akuminata, kutu kemaluan (pubic lice), Vaginitis. Penularan PHS umumnya adalah melalui hubungan seksual, sedangkan cara lainnya yantu melalui transfusi darah, jarum suntik, ibu hamil kepada bayi yang dikandungnya, dan lain-lain. Sumber penularan utama adalah wanita pekerja seksual.

PHS sering juga disebut penyakit kelamin, penyakit veneral, Penyakit Menular Seksual (PMS).

Gejala-gejala yang dapat dilihat :

1. Perubahan pada kulit di sekitar kemaluan

2. Saat membuang air kacil terasa sakit

3. Gatal pada alat kelamin

4. Terasa sakit pada daerah pinggul (wanita)

5. Meski tanpa gejala, dapat menularkan penyakit bila sudah terkena

6. Hanya dokter yang mampu menangani penyakit menular seksual

Akibat yang ditimbulkan:

1. pada emosi : ketakutan, perasaan malu, bersalah

2. dapat menular dari ibu kepada bayinya

3. gangguan/cacad pada bayi yang dikandung

4. kemandulan pada pria dan wanita

5. kematian

Rantai penularan penyakit menular seksual

Pengertian : Kuman, sebagai penyebab penyakit akan berpindah dari satu orang ke orang lainnya. ini menciptakan terjadinya mata rantai penularan, sehingga setiap mata rantai merupakan bagian yang penting dalam penularan penyakit pada orang lain. Mengerti dan memutuskan salah satu mata rantai penularan adalah cara yang baik untuk mencegah penularan.

Rantai penularan PHS :

Virus, bakteri, protozoa, parasit dan jamur

Manusia, bahan lain yang tercemar kuman

Penis, vagina, lubang pantat, kulit yang terluka, darah, selaput lendir.

Yang paling umum adalah hubungan seks (penis-vagina, penis-lubang pantat, mulut-lubang pantat, mulut-vagina, mulut-penis).

Hubungan seks, pemakaian jarum suntik secara bersama-sama dari orang yang terkena PMS ke orang lainnya (obat suntik terlarang, transfusi darah yang tidak steril, jarum tato dan lainnya).

Orang yang berperilaku seks tidak aman. Makin banyak pasangan seks, makin tinggi kemungkinan terkena PMS dari orang yang sudah tertular.

Pencegahan:

1. Patahkan salah satu rantai penularan

2. pakailah kondom

Pengobatan: Datang dan berkonsultasi dengan dokter yang profesional. Berobat sndiri tanpa tahu dengan pasti sring berakibat semakin parah, dan menyebabkan kuman menjadi resisten terhadap obat-obatan.

Peningkatan angka kejadian PMS disebabkan beberapa faktor:

1. kontrasepsi, timbul perasaan aman tidak terjadi kehamilan

2. seks bebas, norma moral yang menurun

3. kurangnya pemahaman tentang selsualitas dan PMS

4. transportasi yang makin lancar, mobilitas tinggi

5. urbanisasi dan pengangguran

6. kemiskinan

7. pengetahuan

8. pelacuran

Penularan PMS pada umumnya adalah melalui hubungan seksual (95%), sedangkan cara lainnya yaitu melalui transfusi darah, jarum suntuik, plasenta (dari ibu kepada anak yang dikandungnya) dan lain-lain. Sumber penularan utama adalah WTS (80%).

BEBERAPA PMS YANG SERING DIJUMPAI:

Sifilis

Sifilis adalah penyakit kelamin yang bersifat kronis dan menahun walaupun frekuensi penyakit ini mulai menurun, tapi masih merupakan penyakit yang berbahaya karena dapat menyerang seluruh organ tubuh termasuk sistem peredaran darah, syaraf dan dapat ditularkan oleh ibu hamil kepada bayi yang dikandungnya, sehingga menyebabkan kelainan bawaan pada bayi tersebut. Sifilis sering dikenal sebagai lues, Raja Singa.

  • Kuman penyebab : Treponema pallidum
  • Perantara : Manusia
  • Tempat kuman keluar : Penis, vagina, mulut dan ibu hamil kepada bayinya
  • Cara penularan : kontak seksual, ibu kepada bayinya
  • Tempat kuman masuk :Penis, vagina, anus, mulut, transfusi.

Berdasarkan penyebarannya sifilis dibagi menjadi 2 tahap:

1. Tahap dini, sangat menular karena pada kelainan kulit dan selaput lendir dijumpai kuman. Termasuk di sini adalah sifilis stadium I dan II.

2. Tahap lanjut daya tular penyakit rendah.

Gejala:

Sifilis mempunyai masa tunas yang berkisar 3 minggu. Pada tempat masuk kuman timbul suatu ulkus (luka) yang bulat lonjong, dasar bersih, merah, kulit di sekitar terang, pada perabaan keras dan tidak nyeri, keadaan ini disebut efek primer stadium I. Sering disertai pembengkakan kelenjar getah bening di daerang sekitar tempat infeksi yang padat, kenyal, pada perabaan tikdak sakit.

Dalam 3-6 minggu kelainan ini dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan. Setelah efek primer, 6-8 minggu kemudian penyakit masuk ke dalam stadium II, biasanya didahului gejala panas, sakit kepala, sakit tulang dan sebagainya. Tanda-tana pada kulit dan selaput lendir dapat menyerupai semua penyakit kulit yang lain (the great imitator) dan kelainan pada kulit tersebut tidak gatal. Lesi pada tempat yang lembab pada lipatan kulit disebut kondiloma lata. Terdapat pembesaran kelenjar getah bening yang menyeluruh (limfadenitis generalisata). Kelainan kulit dapat menghilang tanpa pengobatan kemudian dapat muncul lagi tapi tidak simetris. Sifilis laten adalah penderita sifilis tanpa gejala dan hanya ditemukan hasil tes yang positif.

Sifilis stadium III muncul setelah 3-10 tahun stadium I. Keadaan ini tidak menular, tapi dapat menyerang semua organ tubuh. Kelainan yang khas adalah suatu nodus yang kemudian melunak, pecah dan membentuk ulkus. Di samping itu juga dapat menyerang sistem peredaran darah dan saraf.

GONORE (GO)

Gonore adalah PMS yang paling sering ditemukan dan paling mudah ditegakkan diagnosisnya. Nama awam penyakit kelamin ini adalah "kencing nanah". Masa inkubasi 3-5 hari.

  • Kuman : Neisseria gonorrhoea
  • Perantara : manusia
  • tempat kuman keluar : penis, vagina, anus, mulut
  • cara penularan : kontak seksua langsung
  • tempat kuman masuk : penis, vagina, anus, mulut
  • yang bisa terkena : orang yang berhubungan seks tak aman

Gejala :

Penderita pria biasanya mengeluhkan sakit pada waktu kencing. Dari mulut saluran kencing keluar nanah kental berwarna kuning hijau. Setelah beberapa hari keluarnya nanah hanya pada pagi hari, sedikit dan encer serta rasa nyeri berkurang. Bila penyakit ini tidak diobati dapat timbul komplikasi berupa peradangan pada alat kelamin.

Pada wanita, penyakit ini tidak menunjukkan gejala yang jelas atau bahkan tidak menimbulkan keluhan sama sekali, sehingga wanita mudah menjadi sumber penularan GO. Kadang penderita mengeluh keputihan dan nyeri waktu kencing.

Dapat timbul komplikasi berupa bartolitis, yaitu membengkaknya kelenjar Bartholin sehingga penderita sukar jalan karena nyeri. Komplikasi dapat ke atas menyebabkan kemandulan, bila ke rongga perut menyebabkan radang di perut dan usus. Selain itu baik pada wanita atau pria dapat terjadi infeksi sistemik (seluruh tubuh) ke sendi, jantung, selaput otak dan lain-lain. Pada ibu hamil, bila tidak diobati, saat melahirkan mata bayi dapat terinfeksi, bila tidak cepat ditangani dapat menyebabkan kebutaan

LIMFOGRANULOMA VENERIUM

Masa inkubasi 1-4 minggu pada tempat masuknya mikroorganisme berupa lesi yang tidak khas baik berupa erosi, papul atau ulkus yang sembuh sendiri tanpa pengobatan. Beberapa minggu kemudian timbul pembengkakan kelenjar getah bening. Tumor tampak merah dan nyeri, perlunakan yang terjadi tidak serentak sehigga memecah dengan fistel. Penyakit meluas ke kelenjar getah bening di rongga panggul.

Pada wanita, di samping gejala di atas, manifestasi dapat terjadi pada kelenjat Iliaka, sehingga terjadi nyeri waktu buang air besar atau berhubungan seksual. Nama lainnya : Bonen

  • kuman : Chlamydia trachomatis
  • perantara : manusia
  • tempat kuman keluar : penis, vagina. mulut
  • cara penularan : kontak seksual
  • tempat kuman masuk : penis, vagina, anus , mulut
  • yang bisa terkena : orang yang berhub. seks tak aman dg penderita

HERPES GENITALIS

Kejadian penyakit ini sangat cepat akhir-akhir ini. Penyakit ini tak dapat diberantas secara tuntas dan sering kumat-kumatan, dan dapat menimbulkan komplikasi pada saat hamil dan persalinan. Herpes genitalis disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe 1 dan tipe 2.

  • tipe 1 : keganasan rendah, menyerang terutama sekitar mulut
  • tipe 2 : ganas, menyerang alat kelamin
  • penyebab : virus Herpes Simpleks
  • perantara : manusia, bahan yang tercemar virus
  • tempat virus keluar : penis, vagina, anus, mulut
  • cara penularan : kontak langsung
  • tempat kuman masuk : penis, vagina, anus, mulut

Pada wanita penyakit ini biasanya tanpa gejala, tapi dapat menularkan penyakit. Penularan hampir selalu terjadi melalui hubungan seksual. masa inkubasi 3-5 hari, kemudian pada daerah kemaluan timbul gerombolan vesikel, di atas kulit kemerahan dan dirasakan nyeri, bila pecah meninggalkan bekas. Sering disertai pembesaran kelenjar yang nyeri. Penyakit sembuh dalam 2-3 minggu. Penyakit sering kumat, timbul pada tempat yang sama dan biasanya lebih ringan dari gejala infeksi pertama. Faktor yang mempengaruhi kekambuhan biasanya adalah kelelahan fisik dan stress mental, atau infeksi sistemik lainnya. Hubungan seksual yang berlebihan dengan banyak pasangan meningkatkan kemungkinan berhubungan dengan orang yang sudah kena. Komplikasi pada wanita hamil dapat ditularkan melalui ari-ari atau pada saat melahirkan, dapat menyebabkan keguguran, kematian janin atau cacad permanen. Di samping itu, dapat pula menyebabkan kanker serviks.

KONDILOMA AKUMINATA

  • nama lain :Jengger ayam (genital warts)
  • penyebab :Papilloma Virus
  • perantara : manusia
  • tempat kuman keluar : penis, vagina, anus
  • cara penularan : hubungan seksual
  • tempat virus masuk : penis, vagina, anus

Masa inkubasi 2-3 bulan. Cara penularan melaluiu hubungan seksual. Diagnosa terutama ditegakkan secara klinis. Lokalisasi lesi pada umumnya di daerah lipatan dan lelbab, misalnya daerah vulva, vagina sampai serviks, daerah perineum dan perineae. Lesi berupa papul, berwarna pucat dengan permukaan seperti bunga kol yang makin lama makin membersar sehingga sangat mengganggu.

KUTUAN KELAMIN

Adalah suatu penyakit kelamin yang ditandai gatal pada kemaluan yang disebabkan oleh sejenis kutu.

  • penyebab : Pubic lice, Pediculus pubis, kutupubis
  • perantara : rambut kelamin, pakaian dalam, alat tercemar kutu & telurnya
  • tempat keluar kutu : rambut alat kelamin
  • penularan : hubungan seksual, terkena bahan tercemar

gejala :

1. gatal akibat kutu yang mengisap cairan tubuh di sekitar rambut kelamin.

2. kerusakan kulit

3. bintik-bintik darah pada celana dalam

9 RAMBU BAGI TUBUH SUBUR

9 RAMBU Bagi yang BERTUBUH SUBUR

Tak perlu kelewat khawatir meski kegemukan semasa kehamilan dan persalinan perlu mendapat perhatian khusus.

Kegemukan tak mesti menjadi momok yang menakutkan bagi kehamilan dan persalinan. Kendati memang ada dampak negatif bagi ibu hamil dan janinnya, baik semasa kehamilan, persalinan maupun usai persalinan. Namun tak perlu kelewat khawatir asalkan ibu mampu menjalani pola hidup sehat disamping melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur. Berikut rambu-rambu yang wajib diperhatikan.

1.Jangan Berdiet

Demi menghambat kenaikan BB (berat badan) yang berlebihan, membatasi jumlah karbohidrat yang dikonsumsi masih diizinkan. Namun tetap upayakan memenuhi pedoman gizi seimbang. Jangan membatasi jumlah protein karena protein penting bagi pertumbuhan janin dalam kandungan. Dibanding semasa tak hamil, jumlah kebutuhan protein semasa kehamilan meningkat sebanyak 17 g/hari. Kebutuhan ini akan tercukupi dengan mengonsumsi 100 gram daging sapi (2 potong ukuran sedang) dan 100 gram ayam (2 potong ukuran sedang) atau 150 gram tempe (4 potong ukuran sedang).

2. Hindari Makanan Tertentu

Wanita gemuk cenderung menderita diabetes. Jadi, hindari makanan pemicu gula darah tinggi seperti makanan yang manis-manis, berlemak, goreng-gorengan, dan makanan tinggi kolesterol. Sebaliknya, amat dianjurkan mengonsumsi makanan berserat dan buah-buahan segar. Pertimbangannya, makanan berserat bisa mempertahankan rasa kenyang lebih lama, disamping menurunkan kadar kolesterol dalam darah.

Sedangkan penderita darah tinggi dianjurkan membatasi makanan yang mengandung garam. Pembatasan ini mampu mengurangi kemungkinan meningginya tekanan darah yang bisa berujung menjadi preeklampsia. Namun harus dibarengi dengan upaya memenuhi kebutuhan protein, kalsium dan magnesium selama hamil. Seberapa besar kebutuhan masing-masing, jangan lupa mengonsultasikannya dengan dokter Anda.

3. Jaga Berat Badan

Kegemukan dibedakan menjadi overweight (OW) dan obesitas. OW atau berat badan berlebih merupakan kondisi BB mencapai kisaran angka 10 20% dari berat badan ideal (BBI). Sedangkan seseorang dikatakan mengalami obesitas jika berat badannya melebihi 20% BBI.

Khusus untuk yang berusia kurang atau sama dengan 30 tahun, BBI adalah tinggi badan 100 10% dari tinggi badan-100. Sedangkan untuk yang berusia di atas 30 tahun, BBI dihitung dari tinggi badan-100. Contohnya, untuk wanita usia 25 tahun dengan tinggi 160 cm, BBI-nya adalah 160-100-10% dari 160-100, yakni 60-6= 54 kg. Sedangkan BBI untuk wanita usia 35 tahun dengan tingginya sama 160 cm adalah 160-100= 60kg. Untuk mereka yang sebelum hamil memiliki BB berlebih dianjurkan kenaikan BB selama kehamilan berkisar di angka 6,75 sampai 11,25 kg. Sedangkan mereka yang obesitas cukup 6,75 kg saja.

4. Lakukan Pemeriksaan Rutin

Pemeriksaan rutin semasa kehamilan atau antenatal care (ANC) bagi yang bertubuh subur pada dasarnya tidak berbeda dengan wanita dengan BB normal. Lakukan ANC secara teratur guna meminimalkan risiko bayi besar akibat diabetes. Ataupun bayi dengan berat lahir rendah lantaran tidak mendapat asupan makanan yang maksimal.

Itulah mengapa di trimester pertama dan ketiga, dokter akan meminta ibu hamil menjalani pemeriksakan gula darah. Melalui pemeriksaan ini dapat diketahui apakah si ibu hamil berisiko terkena diabetes atau tidak. Selain tentu saja dengan tetap memperhatikan riwayat keluarga. Bila hasil pemeriksaan glukosa toleransi tes (GTT) di atas 140 mg/dl, maka yang bersangkutan bisa dinyatakan positif menderita diabetes. Pemeriksaan rutin lainnya adalah pemeriksaan tekanan darah untuk mengetahui apakah ibu menderita hipertensi atau tidak.

5. Waspadai Dampak Negatif Kegemukan

Kegemukan semasa hamil berisiko menyebabkan hipertensi kronis. Kegemukan membuat beban jantung jadi terlalu berat sementara tekanan pada pembuluh darah meninggi akibat tebalnya tumpukan lemak. Satu-satunya jalan untuk mendeteksi kondisi ini ya melalui pemeriksaan tekanan darah.

Kegemukan pun membuat kemungkinan si ibu mengidap diabetes jadi tinggi. Penyebabnya, hormon kehamilan (Beta HCG/Human Chorion Gonadotrophine) akan mengubah sebagian besar lemak dalam tubuh menjadi glukosa. Tak hanya itu. Diabetes juga memperbesar kemungkinan ibu melahirkan bayi besar (makrosomi) dengan berat lahir melebihi 4.500 gram.

Namun bisa juga sebaliknya, berat bayi lahir rendah (BBLR), yakni kurang dari 2.000-2.500 gram. BBLR terjadi karena pembuluh darah menyempit akibat timbunan lemak hingga pasokan nutrisi ke janin berkurang dari semestinya hingga bayi tidak bisa berkembang optimal. Dampak yang lebih parah, bukan tidak mungkin janin meninggal dalam kandungan karena mengalami keracunan. Kemungkinan lain, paru-parunya mengalami gangguan berat akibat kadar gula ibu yang sangat tinggi.

6. Pantau BB Janin Secara Berkala

Lakukan pemantauan BB janin secara berkala bersamaan saat ANC. Meski frekuensinya bisa dikurangi bila tidak ada indikasi yang mengganggu. Demikian pula sebaliknya. Saat persalinan, dokter umumnya akan melakukan tindakan induksi di usia kehamilan 40 minggu. Induksi dengan obat-obatan yang dimasukkan ke vagina ini dilakukan agar bayi tidak berkembang lebih besar lagi hingga menjadi giant baby. Dokter juga akan memberikan insulin jika ibu positif terkena kencing manis. Lewat cara ini banyak ibu yang bisa melahirkan dengan normal.

7. Boleh Jalani Persalinan Normal

Siapa bilang wanita bertubuh subur tak boleh menjalani persalinan normal? Bila ukuran panggul memungkinkan, kemampuan kontraksinya baik, tak ada kelainan letak plasenta yang menghalangi jalan lahir, dan ukuran bayi normal, boleh-boleh saja kok yang bersangkutan melahirkan secara normal.

8. Wajib Sesar Bila....

Bila berat janin melebihi 4.500 gram bagi wanita normal sehat atau 4.000 gram bagi diabetesi, maka persalinan amat dianjurkan melalui bedah sesar. Jika tidak, dikhawatirkan bayi akan lahir dengan penyulit atau distosia yakni menyangkutnya bahu janin di jalan lahir. Faktor lain yang juga mesti mendapat perhatian serius adalah ukuran panggul ibu terlalu kecil, letak plasenta menghalangi jalan lahir dan kontraksi yang lemah.

9. Waspadai Dampak Negatif Pascapersalinan

Proses sesar ibu dengan OW maupun obesitas amat berpeluang meningkatkan risiko terjadinya perdarahan. Soalnya, proses pembekuan darah pada ibu hamil dengan BB berlebih tadi jadi kurang berfungsi optimal. Bekuan darah yang berguna untuk mengurangi bahkan meng-hentikan perdarahan terganggu akibat kondisi pembuluh darah yang tidak ideal, baik akibat penumpukan lemak maupun timbunan kolesterol.

Selain itu, ibu hamil dengan OW maupun obesitas juga kerap mengalami infeksi seusai bersalin. Bisa dimengerti mengingat banyaknya pembuluh darah si ibu yang tersumbat semasa hamil. Akibatnya, proses penyembuhan luka pun terganggu dan makan waktu lebih lama. Untuk mencegah infeksi, dokter akan memberikan obat-obatan antibiotika. Sementara transfusi darah dilakukan jika kadar Hb ibu relatif rendah atau terjadi perdarahan melebihi 500 ml.